Puasa Seperti Apa yang Bisa Menghantarkan Kepada Ketakwaan?


Oleh: Badrul Tamam

Al-Hamdulillah, segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada baginda Rasulillah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya.

Sesungguhnya ibadah shiyam Ramadhan bukan ibadah ringan. Di dalamnya penuh dengan masyaqah dan kelelahan. Apalagi kalau dikerjakan saat musim panas dan kemarau yang waktu siangnya lebih panjang daripada malamnya, maka rasa beratnya akan semakin bertambah. Oleh karenanya Allah hibur dengan keterangan, ibadah tersebut juga diwajibkan atas umat sebelum kita. Ini sebagai hiburan bagi kita, karena apabila seseorang tahu bahwa beban tersebut dipikulkan atas dirinya dan orang lain, maka jiwa akan merasa lebih ringan menanggungnya. Lebih dari itu, Allah ingin menjelaskan bahwa Dia ‘Azza wa Jalla  ingin menyempurnakan karunia dan keutamaan untuk umat ini sebagaimana itu pernah diberikan kepada umat sebelum kita.

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Di antara keutamaan puasa, ia merupakan sarana agung dan besar untuk membentuk ketakwaan. Sedangkan takwa merupakan pokok segala kebaikan dan sebab diperolehnya kebaikan dunia dan akhirat. Bahkan surga –disebutkan secara khusus- disediakan bagi orang-orang bertakwa.

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmudan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran: 135)

Lalu Allah sebutkan dipenghujung ayat shiyam, “agar kamu bertakwa“. Takwa menjadi hikmah dan tujuan utama dari disyariatkan ibadah shiyam Ramadhan. Yakni agar orang-orang beriman menjadi orang-orang bertakwa melalui ibadah shiyam yang diwajibkan kepada mereka.

Bagaimana Puasa Bisa Menghantarkan Kepada Ketakwaan?

Shiyam yang diwajibkan atas orang beriman sebanyak hari-hari yang ditentukan yang itu pada bulan Ramadhan. Yakni antara 29 sampai 30 hari. Jumlah yang ditentukan dengan penuh perhitungan. Di mana apabila suatu amal dikerjakan secara berulang dan kontinyu sejumlah hari-hari itu maka amal tersebut bisa menjadi suatu karakter yang mendarah daging dalam diri pelakunya.

Kita lihat perintah Allah kepada Nabi Musa ‘Alaihis Salamuntuk menerima wahyu darinya,

وَوَاعَدْنَا مُوسَى ثَلَاثِينَ لَيْلَةً وَأَتْمَمْنَاهَا بِعَشْرٍ فَتَمَّ مِيقَاتُ رَبِّهِ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

Dan telah Kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam.” (QS. Al-A’raf: 142)

Imam Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya, “Para ulama berkata: Musa ‘Alaihis Salam berpuasa padanya. Maka ketika sudah sampai batas waktu yang ditentukan, Musa bersiwak dengan kulit pohon. Kemudian Allah menyuruhnya untuk menyempurnakan sepuluh hari sehingga menjadi empat puluh hari.”

Di dalam hadits dari Anas bin Malik rahimahullah, ia mengatakan, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalambersabda:

مَنْ صَلَّى لِلَّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا فِي جَمَاعَةٍ يُدْرِكُ التَّكْبِيرَةَ الْأُولَى كُتِبَتْ لَهُ بَرَاءَتَانِ بَرَاءَةٌ مِنْ النَّارِ وَبَرَاءَةٌ مِنْ النِّفَاقِ

Barangsiapa yang shalat karena Allah selama 40 hari secara berjama’ah dengan mendapatkan Takbiratul pertama (takbiratul ihramnya imam), maka ditulis untuknya dua kebebasan, yaitu kebebasan dari api neraka dan kebebasan dari sifat kemunafikan.” (HR. Tirmidzi, dihasankan oleh Syaikh Al Albani di kitab Shahih Al Jami’ II/1089, Al-Silsilah al-Shahihah: IV/629 dan VI/314).

Maksudnya, sebagaimana yang dijelaskan Al-‘Allamah al-Thiibi rahimahullah, ”Ia dilindungi di dunia ini dari melakukan perbuatan kemunafikan dan diberi taufiq untuk melakukan amalan kaum ikhlas. Sedangkan di akhirat, ia dilindungi dari adzab yang ditimpakan kepada orang munafik dan diberi kesaksian bahwa ia bukan seorang munafik. Yakni jika kaum munafik melakukan shalat, maka mereka shalat dengan bermalas-malasan. Dan keadaannya ini berbeda dengan keadaan mereka.” (Dinukil dari Tuhfatul Ahwadzi I/201).

Bahwa ibadah shalat yang dilakukan secara berulang dan kontinyu sejumlah hari-hari tersebut akan membentuk karakter orang beriman. Karena sifat mereka bersungguh-sungguh dan semangat dalam menjaga shalat. Yang ini berbeda dengan kaum munafikin, “Dan apabila mereka berdiri untuk salat mereka berdiri dengan malas.” (QS. Al-Nisa’: 142)

Sementara ibadah puasa yang disyariatkan selama tiga puluh hari. Lalu disyariatkan dengan tambahan sesudahnya pada bulan syawal sebanyak enam hari. Sehingga berjumlah empat puluhan. Maka amalan yang dikerjakan selama itu sudah bisa membentuk karakter. Karenanya, jika seorang shaim berpuasa dengan benar –mengisi puasanya dengan ketakwaan- maka takwa itu akan menjadi karakternya. Amal-amal ketakwaan akan menjadi kebiasaan yang ia senantiasa rindu padanya.

Oleh sebab itu Allah sebutkan hikmah puasa La’allakum tattaquuna (agar kalian bertakwa) dengan fi’il mudhari’ yang memiliki faidah istimrar (terus menerus) dan menunjukkan waktu sekarang dan akan datang. Artinya agar kalian saat berpuasa Ramadhan  bertakwa yang ketakwaan tersebut berlanjut sampai sesudah Ramadhan.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhus Shalihin berkata tentang tafsir ayat di atas, “Maksudnya: Untuk takwa. Inilah hikmah dari diwajibkannya puasa. Ini seperti ditunjukkan oleh sabda RasulullahShallallahu ‘Alaihi Wasallam:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَالْعَمَلَ بِهِ وَالْجَهْلَ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatannya serta perbuatan bodoh, maka Allah tidak butuh dalam ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Al-Bukhari) karena Allah tidak berkehendak menyiksa para hamba-Nya dengan meninggalkan apa yang disenangi, tetapi Dia menginginkan agar mereka meninggalkan perkataan dan perbuatan maksiat serta perbuatan bodoh,” selesai.

Maka puasa yang bisa menghantarkan kepada ketakwaan adalah puasa yang diisi dengan ketakwaan selama hari-hari yang sudah ditentukan. Karena fungsi puasa adalah sebagai perisai. Yakni perisai atau tameng yang melindungi pelakunya dari kemaksiatan dan diakhirat puasa menjadi tameng baginya dari api neraka. Karena, “Siapa yang puasa Ramadhan didasari iman dan berharap pahala (kepada Allah) maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Wallahu Ta’ala A’lam.

http://www.voa-islam.com/islamia/aqidah/2012/08/01/20077/puasa-seperti-apa-yang-bisa-menghantarkan-kepada-ketakwaan/

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s